Lia. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadits. Tampilkan semua postingan

Hadiah terbaik menurut para sahabat nabi


Saling memberikan hadiah termasuk perkara yang dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Rasa cinta dan kasih akan terjalin lebih kuat melalui hadiah-hadiah yang diberikan. Perasaan benci dan kaku akan sirna. Hubungan akan bertambah hangat dan akrab antara dua orang Muslim tatkala seseorang dari mereka menyodorkan hadiah kepada yang lain. Pertanyaan yang muncul, apakah hadiah materi merupakan hadiah yang terbaik dan paling berharga bagi orang lain?. Mari kita tengok pandangan Sahabat radhiyallahu ‘anhum tentang hadiah yang terbaik melalui hadits berikut ini.
Imam al-Bukhâri rahimahullah meriwayatkan hadits dalam Shahîhnya melalui jalur ‘Abdur Rahmân bin Abi Lailâ rahimahullah. Ia mengatakan:
لَقِيَنِيْ كَعْبُ بْنُ عُجْرَةٍ فَقَالَ: أَلَا أُهْدِيْ لَكَ هَدِيَّةً سَمِعْتُهَا مِنَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم”. فَقُلْتُ :”بَلَى فَأَهْدِهَا إِلَيَّ”. فَقَالَ :”سَأَلْنَا رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقُلْنَا: ” يَا رَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَمْ أَهْلَ الْبَيْتِ؟ فَإِنَ الله َ عَلَّمَنَا كَيْفَ نُسَلِّمُ “
Ka’b bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu menjumpaiku, lalu ia berkata, ‘Maukah kamu aku beri hadiah yang aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Maka, aku menjawab, “Ya. Hadiahkanlah itu kepadaku”. Kemudian ia berkata, “Kami bertanya Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami mengatakan, ‘Wahai Rasûlullâh, bagaimanakah mengucapkan shalawat kepada engkau wahai Ahlil Bait? (Karena) sesungguhnya Allâh Ta’ala telah mengajarkan kepada kami untuk mengucapkan salam kepada (engkau)’.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ucapkanlah oleh kalian
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اَللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.”
Dalam teks hadits di atas, ada dialog menarik antara ‘Abdur Rahmân bin Abi Lailâ rahimahullah dari generasi Tabi’in dan Ka’b bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu, seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam . Dialog yang berisi tawaran hadiah oleh Ka’b radhiyallahu ‘anhu kepada ‘Abdur Rahman bin Abi Laila rahimahullah. Akan tetapi, hadiah yang dimaksud bukanlah hadiah berupa materi duniawi, namun berujud sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mari kita simak ulasan Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbâd hafizhahullah, seorang Ulama besar dalam bidang hadits dari Madinah, tentang hadits ini dan relevansinya dengan kunci kemenangan umat Islam. Beliau hafizhahullâh mengatakan (dengan bahasa bebas), “Perkataan Ka’b bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu kepada Ibnu Abi Lailâ rahimahullah , “‘Maukah kamu aku beri hadiah yang aku dengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam“, menunjukkan bahwa hadits-hadits Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wasallam, mengetahui Sunnah beliau dan pengamalannya merupakan perkara paling penting menurut mereka dan paling disukai oleh hati mereka. Oleh karena itu, Ka’b radhiyallahu ‘anhu mengutarakan apa yang diungkapkannya sebagai hadiah itu untuk mengingatkan tentang pentingnya perkara yang akan ia sampaikan kepada Ibnu Abi Lailâ rahimahullah, supaya ia siap untuk memahaminya dan mempersiapkan diri menerima dan menguasainya.
Ketika generasi Salaf amat besar atensi mereka terhadap Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, antusias untuk menyebarkannya, dan hal itu menjadi hadiah paling berharga mereka disebabkan kecintaan mereka terhadap Sunnah Nabi dan semangat mereka untuk mengamalkannya, maka mereka pun menjelma pemimpin-pemimpin umat manusia dan menjadi terpandang di muka bumi. Kemenangan terhadap musuh menyertai mereka. Begitu juga, kekuatan dan dominasi menjadi milik Islam dan kaum Muslimin. Sebagaimana Allâh Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allâh, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad/47:7).
Berbeda keadaannya dengan realita yang kita saksikan pada kaum Muslimin hari ini yang menyedihkan hati, karena tidak ada saling menolong di antara mereka, mereka dalam keadaan bercerai-berai, kurang perhatian terhadap ajaran syariat dan jauh darinya, kecuali orang-orang yang Allâh Ta’ala rahmati yang jumlahnya tidak banyak.
Karena umat Islam sekarang ini demikian keadaannya, maka musuh-musuh mereka tidak memperhitungkan dan tidak pula memikirkan mereka sama sekali. Umat Islam takut terhadap musuh, setelah sebelumnya para pendahulu umat Islam amat ditakuti musuh. Para pendahulu umat telah berhasil melumpuhkan pusat kekuasaan musuh, demikian pula orang-orang yang terdidik oleh mereka.
Apabila seorang Muslim yang cerdas mencermati kandungan hadits mulia ini yang berupa tingginya nilai Sunnah dalam jiwa generasi Salafus Shalih dan agungnya kedudukan Sunnah dalam jiwa mereka, dan Sunnah menjadi bingkisan berharga dari mereka, lalu ia mengalihkan pandangan kepada keadaan kebanyakan orang yang mengaku beragama Islam sekarang ini dan kondisi mereka yang kurang perhatian terhadap syariat dan hidup dengan acuan yang lain, maka ia akan mengetahui rahasia generasi para pendahulu berhasil mengalahkan musuh-musuh, meski jumlah personel dan peralatan perang mereka amat minim, sementara umat Islam sekarang kalah di hadapan musuh, meski jumlah mereka banyak.
Tidak akan tegak kekuatan bagi kaum Muslimin hingga mereka mau kembali kepada al-Qur`an dan Sunnah, dan membuang undang-undang nista produk manusia dan ketetapan-ketetapan lain yang berasal dari luar Islam dan kemudian dilanjutkan dengan membersihkan jiwa-jiwa mereka dan negeri mereka darinya”. (Kutub wa Rasâilu ‘Abdil Muhsin al-‘Abbâd al-Badr Vol II, hlm.560-561).
Hadits ini menjadi dasar penting tentang pemberian hadiah berupa ilmu yang bermanfaat. Hadiah yang berisi paparan tentang kebenaran, ajakan untuk mengikuti kebenaran dan peringatan dari perkara yang dilarang syariat manfaatnya sangat luas dan pahalanya sebanyak orang yang mengikutinya. (Lihat al-Intishâru li Ahlis Sunnah wal Hadîts fî Raddi Abâthîli Hasan al-Mâliki, Syaikh ‘Abdil Muhsin al-‘Abbâd al-Badr, Cet.I, Thn.1424H, hlm. 10).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهْمْ شَيْئًا
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk lurus, maka baginya pahala sebanyak pahala orang-orang yang mengikutinya”. (HR. Muslim no.2674).
Atas dasar keterangan singkat di atas, mari kita meniru langkah generasi Salaf dalam menyebarluaskan ilmu sebagai hadiah dan bingkisan paling berharga bagi umat. Aktifitas ‘bagi-bagi hadiah’ bisa dipraktekkan secara sederhana dengan menghadiahkan buku-buku saku, atau bahkan lembaran bulletin yang berisi doa-doa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , ajaran-ajaran Ahli Sunnah wal Jamaah yang mengagungkan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memperingatkan umat dari syirik, bid’ah dan kekeliruan lainnya, hikmah-hikmah dari para Ulama Salaf dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Untuk itu, jadikan medsos sebagai media menyebarluaskan kebaikan yang datang dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallâhu a’lam.
—
Penulis: Ust. Muhammad Ashim, Lc.
Artikel Muslim.Or.Id
source: muslim.or.id
Baca Selengkapnya »

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

3 Wasiat nabi


Kita mungkin pernah mendengar istilah ulama menyebut “Jawami’ul Kalim”. Istilah itu memiliki makna: bahasa yang singkat, namun punya makna yang sangat mendalam. Hal inilah yang sering kita jumpai dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya dalam hadits berikut,
عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ” [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]
“Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan tersebut akan menghapuskan (keburukan). Dan pergauilah manusia dengan akhlak yang mulia.” (HR. At-Tirmidzi, dan dia berkata: Hadits Hasan Shahih).
Dalam hadits di atas, terkandung 3 wasiat Nabi yang sangat penting, baik hubungan manusia kepada Allah maupun hubungan manusia ke sesama manusia.

1. Perintah Takwa dimana pun kita berada

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
Nabi tidak hanya memerintahkan takwa semata, namun bertakwa dimana pun kita berada, baik di tengah keramaian maupun di sunyi bersendirian. Inilah takwa yang sebenar benarnya, dan takwa yang paling berat.
Sebagaimana kata Imam Syafi’i rahimahullah
وقال الشافعي : أعزُّ الأشياء ثلاثة : الجودُ من قِلَّة ، والورعُ في خَلوة ، وكلمةُ الحقِّ عند من يُرجى ويُخاف
Imam Syafii mengatakan, “Perkara yang paling berat itu ada 3, dermawan saat memiliki sedikit harta, meninggalkan hal yang haram saat sendirian dan mengatakan kebenaran saat berada di dekat orang yang diharapkan kebaikannya atau ditakuti kejahatannya” (Jami’ Ulum wa Hikam 2/18).
Ketika seorang bersendirian, menyepi tanpa ada yang mengetahui, maka hal itu akan mendorongnya untuk lebih mudah bermaksiat. Kecuali ia sadar betul bahwa Allah senantiasa mengawasinya, dan rasa takutnya menjadi lebih besar sehingga ia tidak berani melakukan kemaksiatan.
Contoh mudah adalah orang yang sedang berpuasa. Ketika berada di khalayak ramai, ia menahan diri dan mengaku berpuasa. Namun ketika bersendirian, ia diam-diam berpuka puasa. Hal ini tidak akan terjadi kecuali ia memiliki rasa takut yang besar kepada Allah.

2. Segera lakukan amal shalih

وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَ
Hadits di atas menjelaskan perintah untuk bersegera melakukan kebaikan tatkala terjerumus dalam keburukan. Tidak seperti anggapan sebagian orang, jika sudah terciprat, maka tercebur sekalian saja biar basah. Hal ini adalah anggapan yang sangat keliru. Bahkan hadits yang mulia ini menjelaskan perintah untuk segera bertaubat. Karena taubat adalah bagian dari amal shalih yang paling mulia dan harus disegerakan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS. An-Nur: 31)
Hadits di atas juga menerangkan bahwa perbuatan baik yang dilakukan, akan menghapuskan dosa. Tentunya dosa yang terhapus hanyalah dosa kecil, karena dosa besar hanya terhapus jika pelakunya benar-benar telah bertaubat.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضاَنُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ
“Shalat 5 waktu, dari Jumat ke Jumat selanjutnya, serta Ramadhan ke Ramadhan adalah sebagai penghapus dosa di antara waktu itu, selama menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim No. 233).
Sehingga jelaslah bahwa yang dihapus hanyalah dosa kecil saja. Oleh karena itu, ketika seorang muslim terjerumus dalam dosa dan maksiat, maka wajib baginya untuk segera bertaubat dan melakukan amal shalih.

3. Akhlak Mulia kepada manusia

وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Wasiat yang terakhir adalah perintah untuk berakhlak yang mulia kepada sesama manusia. Setelah 2 wasiat di atas menyebutkan perintah yang berhubungan antara Allah dan manusia. Contoh gampang dalam berakhlak mulia adalah senyuman yang diiringi wajah yang berseri dan bertegur sapa ketika bertemu.
Oleh karena itu, Rasulullah mengkaitkan antara akhlak dengan iman yang sempurna. Dimana Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi No. 2612, ia berkata: Hadits Shahih).
Bahkan dalam hadits lain juga disebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Rasulullah pada hari kiamat adalah yang paling bagus akhlaknya. Orang yang memiliki akhlak mulia, tidak hanya dicintai oleh Rasulullah, namun ia akan dicintai oleh manusia yang lainnya.

Penutup

Sebagai penutup dan nasihat untuk diri sendiri, maka jagalah 3 wasiat yang berharga ini. Wasiat yang di dalamnya terdapat hablumminallah dan hablumminannas. Sehingga kita dapat menjadi insan yang dicintai oleh Allah, Rasulullah dan manusia.
Wallahul Muwaffiq.
—
Penulis: Wiwit Hardi P.
Artikel Muslim.Or.Id
Baca Selengkapnya »

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS