Lia. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Peredaran Beras Plastik, Ironi Nawacita Swasembada Pangan

Penemuan beras plastik atau beras sintetis di Bekasi baru-baru ini membuat masyarakat resah. Apalagi setelah Pengujian laboratorium Sucofindo menunjukkan bahwa beras plastik mengandung senyawa yang berbahaya jika masuk dalam tubuh, yaitu Polyvinyl Chloride (PVC), Benzyl Butyl Phthalate (BBT), Bis 2-Ethylhexyl Phthalate (DEHP), dan Diisononyl Phthalate (DNIP).
PVC merupakan salah satu bahan utama plastik. Bahan utama plastik lainnya adalah polystyrene atau styrofoam. Sementara, BBT, DEHP, dan DNIP, merupakan plastiser yang diperlukan untuk melembutkan bahan utama plastik yang umumnya keras dan kaku.(Kompas.com/22/05/2015). Kandungan yang sama juga pernah ditemukan di krupuk dan gorengan. Taktik tersebut biasanya dipakai supaya makanan terasa renyah. (jpnn.com/22/05/2015). Kasus ini menunjukan bahwa Pemerintah kecolongan, pasalnya beras plastik yang ditemukan diduga merupakan beras impor asal China. Kasus ini semakin menambah berat beban rakyat, sudahlah harga beras melangit pasca dinaikannya harga BBM, sekarang untuk memilih beras yang layak dan sehat saja semakin sulit.

Tentu kita masih ingat, begitu jelas p
Baca Selengkapnya »

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dendam terhadap Islam, Motif Biksu Wirathu Usir Etnis Rohingya

 

Jakarta (SI Online) - Akar masalah dari Rohingya adalah rezim militer yang tengah berlangsung di negara Myanmar. Rezim tersebut yang membuat etnis Muslim Rohingya tidak diakui status kewarganegaraan mereka. Kekejaman yang dilakukan mereka menjadi sorotan publik mancanegara. Bukan hanya itu nasib umat Islam Rohingya pun terkatung-katung dengan mengungsi keberbagai penjuru dunia seperti Indonesia dan juga Arab Saudi.

Konflik Rohingya tidak dapat dipisahkan dari latar belakang sejarah, corak keagamaan, dan psikologi budaya kedua kelompok yang berseteru. Saat ini gelombang pengungsi Rohingya telah mencapai lebih dari 12 ribu jiwa di Indonesia.

Hadirnya biksu Ashin Wirathu dikenal sebagai sosok radikal yang menyeruakan kebencian terhadap keberadaan Muslim di Myanmar.

Penyebab sang biksu kejam lantaran dipicu dari trauma dengan negara Indonesia yang diklaimnya dahulunya terkenal sebagai penganut agama Buddha terbanyak yang lambat laun tergerus akan hadirnya umat Islam di bumi Nusantara.

"Biksu ini (Ashin Wirathu) mempunyai trauma yang tinggi terhadap Indonesia. Dirinya memiliki dendam kepada umat Islam, dan takut penganut agama Buddha menjadi terkikis di negara Myanmar seperti yang terjadi dulu di Indonesia," ujar Ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas, Jumat (22/5) seperti dikutip Republika Online.

Namun demikian, Ketua MUI Pusat ini meminta umat Muslim Indonesia agar dapat menahan diri agar tidak tersulut dengan adanya permasalahan yang terjadi di Myanmar.

"Sentimen Buddha jangan di balas di sini, umat Islam tak mengajarkan balas dendam dan juga menghukum yang lemah tanpa belas kasih," ujarnya.

red: abu faza

source: Suara-islam.com
Baca Selengkapnya »

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS